Laporan Banjir dan Longsor Cianjur

I. DESKRIPSI KEJADIAN BANJIR DAN LONGSOR

A. Waktu dan Tempat Kejadian

Bencana terjadi pada tanggal 14 Nopember 2008 hari jum’at dini hari. Banjir terjadi di Desa Cihaur, Desa Cibokor, dan Desa Muara Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur. Sedangkan Longsor terjadi di Kampung Nyalindung, Desa Girimukti Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur

B. Korban

15 orang meninggal dan puluhan lainnya luka-luka, 310 orang terpaksa harus berada ditempat pengungsian, 30 unit rumah tertimbun, 5 rumah hanyut dan 15 unit rusak berat.

II. DESK ANALISIS

A. Banjir

Tempat kejadian adalah masuk dalam sistem hidrologi Sub-Sub DAS Cikondang, Sub DAS Cisokan Hulu , DAS Citarum. Dalam menganalisa tingkat kerawanan banjir dan longsor, kami melakukan pendekatan karakteristik DAS sebagaimana metode mitigasi banjir dan longsor hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Surakarta Departemen Kehutanan (Paimin,et al., 2006). Adapun hasil desk analisis kami sampaikan sebagi berikut:

DAERAH POTENSI PASOKAN AIR BANJIR

Penilai Faktor Alami (60%)

1. Rata-rata hujan harian maksimum bulan basah adalah 120 Skor 4 kategori Agak Tingggi, Bobot 35%, Nilai 140%;

2. Bentuk DAS Agak bulat, Skor 4, kategori Agak Tinggi, Bobot 5%, Nilai 20%;

3. Gradient Sungai 1,1 – 1,5 Skor 2, kategori Agak Rendah, Bobot 10%, Nilai 20%;

4. Kerapatan Drainase Rapat Skor 4, kategori Tinggi, Bobot 5%, Nilai 20%;

5. Lereng rata-rata DAS 26 – 40 Skor 4, kategori Agak tinggi, Bobot 5% Nilai 20%.

Penilaian Faktor Manajemen (40%)

Penilaian dilakukan terhadap jenis penggunaan lahan dominan di daerah pasokan, dimana tempat kejadian umumnya Sawah, Kebun campuran. Skor 3, kategori Agak Tinggi, Nilai 120.

Dari hasil perhitungan formula potensi pasokan air banjir tersebut, dihasilkan nilai sebesar 340, dimana nilai tersebut menunjukan bahwa tingkat kerawana daerah pemasok air banjir di tempat kejadian adalah Agak Rawan.

DAERAH RAWAN BANJIR

Penilai Faktor Alami (55%)

1. Betuk lahan merupakan dataran aluvial, Skor 4 kategori Agak Tingggi, Bobot 30%, Nilai 120%;

2. Lereng lahan kiri-kanan 2 -3%, Skor 4, kategori Agak Tinggi, Bobot 10%, Nilai 40%;

3. Pembendungan oleh percabangan Anak Cabang Sungai Induk, Skor 2, kategori Agak Rendah, Bobot 10%, Nilai 20%;

4. Meandering Sinusitas (P) Panjang/Jarak sungai sesuai belokan : Jarak lurus = 2, Skor 5, kategori tinggi, Bobot 5%, Nilai 25%.

Penilaian Faktor Manajemen (45%)

Penilaian dilakukan terhadap manajemen pengelolaan bangunan air yang dilakukan/yang ada di daerah kejadian, dimana disana tidak ada bangunan sehingga skor 5, kategori tinggi, Nilai 2,25.

Dari hasil perhitungan formula kerawanan daerah kena banjir, dihasilkan nilai sebesar 4,05, dimana nilai tersebut menunjukan bahwa tingkat kerawanan daerah tempat kejadian adalah Rawan.

B. Longsor

Dalam menganalisa bencana longsor kami menggunakan satuan land unit, dimana hasil formulasi tingkat kerawanan longsor di tempat kejadian kami laporkan sebagai berikut:

Penilaian Faktor Alami (60%)

1. Hujan harian kumulatif 3 hari berurutan di tempat kejadian adalah sebesar > 300 mm, Skor 5, kategori Tinggi, Bobot 25%, Nilai 125%;

2. Lereng Lahan > 5 - 45%, Skor 4, kategori Agak Tinggi, Bobot 15%, Nilai 60%;

3. Geologi atau batuan ditempat kejadian umumnya Breksi dan Lava, memiliki Skor 4, kategori Agak Tinggi, Bobot 10, Nilai 40%;

4. Keberadaan sesar/patahan/gawir ada, Skor 5, kategori Tinggi, Bobot 5% Nilai 25%;

5. Kedalaman tanah (regolit) sampai lapisan kedap 3 -5 m, Skor 4, kategori Agak Tinggi, Bobot 5%, Nilai 20%

Panilaian Faktor Manajemen (40%)

1. Penggunaan Lahan Kebun Campuran/ tegalan, Skor 4, kategori Agak Tinggi, Bobot 20%, Nilai 80%;

2. Tidak ada infrastruktur jalan, Skor 1, kategori Rendah, Bobot 15%, Nilai 15%;

3. Kepadatan pemukiman Agak Rendah, sehingga Skor 2, Bobot 5%, Nilai 10%

Dari hasil perhitungan formula kerawanan daerah longsor, dihasilkan nilai sebesar 3,75, dimana nilai tersebut menunjukan bahwa tingkat kerawanan longsor daerah tempat kejadian adalah Rawan.

III. KESIMPULAN

Daerah kejadian merupakan daerah yang rentan terhadap bencana banjir dan longsor, pada saat kejadian, terjadi curah hujan yang diatas normal sehingga jika disimulasikan menggunakan formula yang kami pakai, tingkat kerawanan menjadi meningkat dari perhitungan kondisi biasa.

Simulasi Kerawanan Banjir:

Pada hasil analisa kondisi biasa, curah hujan 120, Skor 4 Nilai 140% menghasilkan nilai kerawanan 4,05 (Agak Rawan), Kondisi pada saat kejadian curah hujan mencapai > 300 mm/hari, Skor 5 Nilai 175% menghasilkan skor kerawanan 4,40 (meningkat menjadi Sangat Rawan). Jadi faktor penyebab utama kejadian masih cenderung kepada faktor curah hujan yang sangat tinggi dari biasanya, didukung informasi dari BMG dimana curah hujan di Jawa Barat akan berada pada kondisi normal sampai atas Normal hingga awal tahun 2009.

Longsor terjadi selain dari curah hujan yang sangat tinggi, juga daerah tersebut merupakan zona gempa tumbukan lempeng vulkanik di daerah Pantai Selatan (Badan Vulkanologi)

Kegiatan kehutanan misalnya dari BPDAS Citarum-Ciliwung juga dari Dinas PKT Kab. Cianjur yang berupa kegiatan Vegetatif melalui GERHAN dan GRLK yang mulai dilaksanakan Tahun 2003, belum berpengaruh terhadap penurunan kerawanan bencana tersebut, karena umur tanaman masih muda dan juga faktor – faktor lain yang lebih bercenderung kepada tingginya kerawanan daerah tersebut.

IV. REKOMENDASI

1. Daerah Pasokan Air Banjir

a. Kawasan Hutan yang rusak direboisasi

b. Lahan-lahan milik dengan kelerengan > 45 % dikelola dengan pola Hutan Rakyat atau Agro forestry.

c. Lahan-lahan pertanian dengan lereng landai sampai agak curam menggunakan teras sering juga saluran air yang baik.

2. Daerah Kena Banjir

a. Pembuatan tanggul kiri kanan sungai di sekitar pemukiman

b. Sistem drainase yang baik di pemukiman maupun di infrastruktur seperti drainase jalan.

c. Hindari Sungai sebagai tempat pembuangan sampah.

3. Daerah Longsor

a. Kawasan Hutan yang rusak direboisasi

b. Lahan-lahan milik dengan kelerengan > 45 % dikelola dengan pola Hutan Rakyat atau Agro forestry.

c. Lahan-lahan pertanian dengan lereng landai sampai agak curam menggunakan terassering juga saluran pembuangan air (SPA) yang baik.

d. Pembuatan bangunan Teknik Sipil pencegah longsor misalkan bronjong pada tebing- tebing infrastruktur misalkan jalan pada lereng.

e. Pengurugan/penutupan rekahan, reshaoing lereng, bronjong kawat, perbaikan drainase baik drainase permukaan seperti saluran pembuangan atau drainase bawah tanah.

Sumber:

  1. Buku Teknik Mitigasi Banjir dan Tanah Longsor (Paimin, et.al) Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Surakarta
  2. RTL-RLKT Sub DAS Cisokan (BPDAS Citarum-Ciliwung, 2005)
  3. Website Pusat Vulkanologi
  4. Website BAKORNAS (BNPB)
  5. Laporan Tata Air SPAS Wilayah BPDAS Citarum-Ciliwung.
 

Sukseskan...!!!

One Billion Indonesian Trees (OBIT)
Penanaman Satu Milyar Pohon Kementerian Kehutanan